Blog

KJRI Jeddah: Kondisi Jamaah Umroh Baik dan Taat Aturan

097819800-1635247301-830-556

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Indonesia akhirnya kembali memberangkatkan jamaah umrohnya, Sabtu (8/1/2022). Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen) RI Jeddah, Eko Hartono, menyebut ratusan jamaah yang diberangkatkan ini dalam kondisi sehat.

“Sejauh ini mereka baik-baik saja. Taat aturan. Tidak ada yang menunjukkan gejala sakit,” ujar dia saat dihubungi Republika, Ahad (9/1/2022).

Ia menyebut jamaah tengah melakukan karantina di dua hotel berbeda di Madinah. Hotel yang dimaksud adalah Movenpick dan Juwar Tsaqifah.

Adapun karantina selama lima hari yang dilakukan jamaah umrah ini mengikuti aturan dari otoritas penerbangan Saudi, GACA. Dalam aturan yang berlaku, pihak maskapai bertanggung jawab memesankan hotel tempat karantina setelah kedatangan.

Eko mengatakan, jumlah jamaah yang sampai di Saudi kemarin malam berjumlah 414 orang dari seharusnya 419. Menurut informasi, lima orang jamaah tidak bisa berangkat karena masalah paspor.

“Yang datang tadi malam 414 orang. Yang lima orang tidak bisa berangkat, infonya masalah paspor,” kata dia.

Konsul Haji KJRI Jeddah Endang Jumali menyampaikan jamaah yang datang belum melakukan tes PCR setelah dua hari. Namun, sejauh ini kondisi ratusan jamaah Indonesia baik-baik saja.

“Mereka sedang karantina. Mereka belum dites PCR setelah dua hari,” ujarnya.

Lebih lanjut, Endang menyebut pihak KJRI hanya bisa memantau sesuai aturan yang berlaku. Hal ini mengingat Kerajaan Saudi tidak mengizinkan ikut campur dari pihak lain.

Sebelumnya, diberitakan Kementerian Agama (Kemenag) melepas sebanyak 419 orang untuk melaksanakan ibadah umroh, Sabtu (8/1/2022). Ratusan orang ini menjadi yang pertama kali setelah beberapa tahun terakhir Indonesia tidak mengirimkan jamaah akibat pandemi Covid-19.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag, Hilman Latief, mengatakan, rencana awal pemberangkatan umroh sudah ditetapkan pada Desember 2021 lalu. Namun, pihaknya masih menahan dan membatalkan rencana tersebut dengan melihat kondisi pandemi Covid-19 pada akhir tahun.

Ia lantas berpesan agar para jamaah mematuhi aturan pencegahan penularan Covid-19, baik di Tanah Air maupun Arab Saudi. Ia juga berdoa semoga Allah SWT meridhoi untuk memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah umroh, serta bangsa dan negara

“Jaga kepercayaan Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi. Tunjukkan bahwa jamaah umroh Indonesia patuh pada aturan, khususnya patuh pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Ingatlah, pandemi COVID-19 belum berakhir,” kata dia.

Soal Umroh, DPR: Jangan Anggap Remeh Penyebaran Omicron

ilustrasi-covid-19-varian_211217230230-140

IHRAM.CO.ID,JAKARTA–Wakil Ketua Komisi VIII Ace Hasan Syadzily meminta semua pihak yang berkepentingan dengan umroh menahan diri untuk tidak berangkat ke Arab Saudi. Saat ini sedang terjadi lonjakan Covid-19 varian baru omicron.

“Jangan anggap enteng atau anggap remeh soal penularan omicron,” kata Ace Hasan saat dihubungi Republika, Rabu (5/1).

Ace mengatakan, masyarakat Indonesia terutama penyelenggara umroh harus tahu, saat ini beberapa negara sedang siaga malawan badai virus omicron. Untuk itu hentikan kegiatan yang dapat meluaskan penyebarannya.

“Karena bagaimanapun kita tahu saat ini di beberapa negara sedang mengalami lonjakan kenaikan Covid-19 ya akibat dari varian baru,” ujarnya.

Ace menyarankan, yang harus dilakukan Kemenag dan para penyelenggara perjalanan umroh (PPIU) melihat perkembangan dari penyebaran omicron di beberapa negara termasuk di Arab Saudi. Untuk itu koordinasi dengan satuan tugas penanganan Covid.19 jika ingin tetap memberangkatkan.

“Karena itu tentu saya meminta kepada kementerian agama berkoordinasi juga dengan komite penanganan Covid-19 soal keselamatan dari calon jamaah umroh kita yang nanti akan akan diberangkatkan ke Arab Saudi,” katanya.

Jangan sampai kata Ace negara-negara lain menunda penerbangan umroh, Indonesia malah mengizinkannya. Demi keselamatan jiwa manusia, Kementerian Agama harus tegas menunda keberangkatan umroh.

“Karena kita tahu Malaysia saat ini juga menghentikan, beberapa negara juga sementara ini jadwal penerbangan mengalami penundaan, pembatalan akibat dari mulai menyebarnya varian baru omicron ini,” katanya.

Kemenag: Pelaksanaan Umroh Tetap Berlanjut

jamaah-umroh-bertawaf-di-sekitar-kabah-di-masa-pandemi_201111203209-482

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Agama (Kemenag) menyebut pelaksanaan umroh jamaah Indonesia tetap berlanjut. Keputusan ini diraih setelah dilakukan rapat bersama dengan kementerian/lembaga terkait, Senin (3/1) kemarin.

“Hasil rapat dengan berbagai Kementerian kemarin, Kemenlu, Kemenhub, Kemenkes, KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, semua menyatakan tidak ada larangan untuk umroh,” kata Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag, Nur Arifin, saat dihubungi Republika, Selasa (4/1).

Meski demikian, mengingat era pandemi Covid-19 yang masih berlangsung dan ada varian baru Omicron, dicapai kesepakatan agar pelaksanaan umroh harus melaksanakan protokol kesehatan yang ketat.

Terkait kasus baru Omicron, Malaysia sebelumnya memutuskan untuk menghentikan sementara umroh mulai 8 Januari nanti. Di sisi lain, penambahan kasus Covid-19 yang terkonfirmasi di Kerajaan Arab Saudi saat ini per-hari telah melewati angka 1.000.

Nur Arifin juga menekankan, apabila nantinya Indonesia memberangkatkan jamaah umrohnya, maka harus dilakukan kordinasi dengan Satgas Covid dan Satgas Bandara Soekarno Hatta. Pertemuan dan rapat dengan tim Satgas disebut telah dilakukan hari ini.

“Dari Satgas, inti masukannya adalah pelaksanaan umrah agar mengikuti protokol yang ketat,” lanjutnya. Setiap hari, disampaikan pula pesan agar kepulangan jamaah umrah dari sekitar 4.000 orang.

Saat ini, Dirjen PHU disebut sedang membuat surat yang ditujukan kepada Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Surat ini berisi informasi bahwa sudah bisa mendaftar umroh untuk keberangkatan Januari ini, dengan sistem one gate policy (OGP).

Terkait tanggal keberangkatan, Nur Arifin menyebut pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk hal tersebut.

MUI Diminta Beri Pencerahan Agar Umat tak Paksakan Umroh

In this Feb. 24, 2020, photo, Muslim pilgrims pray near the Kaaba, the cubic building at the Grand Mosque, as worshippers circumambulate around during the minor pilgrimage, known as Umrah in the Muslim holy city of Mecca, Saudi Arabia. Saudi Arabia halted Thursday, Feb. 27 travel to the holiest sites in Islam over fears of the global outbreak of the new coronavirus just months ahead of the annual hajj pilgrimage, a move coming as the Mideast has over 220 confirmed cases of the illness. (AP Photo/Amr Nabil)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Ketua Rabithah Haji Indonesia Ade Marfudin berharap Majelis Ulama Indonesia (MUI) dapat memberikan pencerahan, agar umat Islam tidak memaksakan diri berangkat umroh di masa pandemi. Apalagi kasus Covid-19 varian baru omicron terus meningkat.

“Untuk menyikapi kondisi ini, peran dan kehadiran MUI diperlukan,” kata Ade Marfudin saat dihubungi Republika, kemarin.

Dalam kondisi ini MUI bisa menjelaskan kaidah dalam ushul fiqh tentang dar’ul mafaasid muqaddamun alaa jalbil mashaalih atau menghindari keburukan harus didahulukan daripada meraih kebaikan. Untuk itu kata dia, MUI sebagai penjaga umat dapat memberikan pemahaman urgensi umroh di masa pandemi.

“Untuk memberikan penguatan tentang urgensi ibadah umroh di tengah pandemi,”katanya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof KH Cholil Nafis pernah menyarankan masyarakat tidak memaksakan berumroh di masa pandemi Covid-19. Menurutnya calon jamaah umroh perlu mempertimbangkan risiko kesehatan maupun besaran biaya tambahan yang harus dikeluarkan terkait aturan karantina.

“Menurut saya, meskipun dibuka, sebaiknya ditunda dulu untuk melaksanakan umroh, karena pertama tidak efektif melaksanakan umroh sebab di sini di karantina, di sana karantina,” katanya.

Menurut Kiai Cholil, di situasi saat ini, terlalu mahal jika mengejar pahala sunnah sampai harus mengeluarkan uang sebesar Rp 50 juta hingga Rp 70 juta. Padahal, ada ibadah sunnah setelah subuh yang pahalanya sama dengan ibadah umrah dan haji, bahkan ada jaminan diterima.

Andaikan masih membahayakan dan ketentuan karantina juga merepotkan, Kiai Cholil merekomendasikan untuk menunda berangkat beribadah ke Tanah Suci. Ia mengingatkan, banyak ibadah sunnah lainnya yang bisa dikejar umat.

“Uang yang dipakai kenapa nggak diberikan sebagai bantuan kepada orang yang nggak mampu, yang sekarang terkena pandemi ini, mereka kan lebih membutuhkan. Jadi, jangan sampai kita menjadi egois dalam beribadah,” katanya.

Rabithah Haji Indonesia Sarankan Umroh Ditunda

939507_720

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Ketua Rabithah Haji Indonesia Ade Marfudin menyarankan pemerintah menunda ibadah umroh. Saran ini berdasarkan pertimbangan dari meningkatnya kasus Covid-19 varian baru omicron.

“Tentunya upaya memulai umroh harus ditunda kembali, kerena akan membahayakan jamaah umrah bila terus dipaksakan,” kata Ade Marfudin saat dihubungi Republika, Senin (3/1).

Menurut Ade, apa yang telah dilakukan pemerintah dalam menangani laju omicron dengan membatasi keberangkatan jamaah ibadah umroh sudah tepat. Karena apa yang dilakukan pemerintah demi kemaslahatan umat manusia yang datang ke Arab Saudi untuk umroh.

“Langkah yang diambil pemerintah saya kira sudah baik. Lebih baik lindungi, amankan jamaah dari wabah covid baru omicron,” ujarnya.

Ade meminta semua pihak patuh terhadap ketentuan syariat yang melarang umat manusia mendatangi pusat wabah. Ketentuan ini perlu disosialiasikan kepada penyelenggara dan juga jamaah agar tidak memaksakan berangkat ke tanah suci untuk umroh.

“Prinsipnya jangan mendatangi tempat wabah yang akan berakibat fatal bagi yang mendatanginya. Lebih baik urungkan demi kemaslahatan dan keselamatan jiwa, sekalipun itu wajib,” katanya.

Menurutnya, pada kondisi saat ini, sudah sepatutnya semua pihak yang berkepentingan dengan penyelenggaraan ibadah umroh mengikuti kebijakan pemerintah. “Saya yakin dan percaya pemerintah lebih mencintai warganya, bangsanya dan nyawa manusia., dibandingkan harus memaksakan,” katanya.

Ade berdoa pandemi ini dapat segera berakhir dan jamaah bisa kembali melaksanakan ibadah umroh secara normal. Sudah dua tahun jamaah tertunda keberangkatannya karena pandemi Covid-19.

“Semoga saja wabah ini cepat sirna sehingga kerinduan jamaah untuk umroh akan segera terlaksana,” katanya.

Kemenag Tegur Amphuri Terkait Kesepakatan Pemberangkatan Umroh

ketua-umum-amphuri-firman-m_210607141657-790

 

IHRAM.CO.ID,JAKARTA — Kementerian Agama (Kemenag) menegur asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) yang melanggar regulasi dan kesepekatan bersama. Kemenag juga prihatin karena asosiasi PPIU yang ditegur tersebut dinilai telah melakukan gerakan sempalan.

“Kami prihatin di saat kita sedang membangun kekuatan Tim Umroh Indonesia yang solid, namun ada sebagian yang melakukan gerakan mufarroqoh atau gerakan sempalan, dengan rasa bangga lagi, tanpa merasa bersalah, Astaghfirullah,” kata Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag, Nur Arifin kepada Republika, Ahad (2/1).

Arifin mengatakan, untuk membangun Tim Umroh Indonesia yang solid. Maka seluruh penyelenggara umroh Indonesia dan pemerintah Indonesia adalah satu tim, yaitu Tim Umroh Indonesia.

“Saat ini kita sedang membangun kekuatan Tim Umroh Indonesia yang solid, namun ada sebagian yang melakukan gerakan mufarroqoh, dengan rasa bangga lagi, tanpa merasa bersalah,” ujarnya.

Sebelumnya, Kemenag mengeluarkan surat pernyataan sikap dan teguran untuk Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umroh Republik Indonesia (Amphuri) yang dikeluarkan pada 31 Desember 2021. Tembusan surat ini ke menteri agama, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, dan Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan.

Isi surat tersebut menyampaikan, pemerintah Indonesia dengan para asosiasi PPIU telah melaksanakan rapat secara daring pada 17 Desember 2021. Rapat itu untuk menyikapi imbauan presiden dan arahan menteri agama untuk tidak melakukan perjalanan ke luar negeri demi keselamatan dan kemaslahatan masyarakat.

Para asosiasi PPIU sepakat untuk menunda pemberangkatan umroh pada bulan Desember 2021. Namun meminta adanya keberangkatan tim kecil atau  tim advance untuk tujuan melakukan uji coba sistem umroh di Arab Saudi.

Usulan tersebut telah direspon oleh pemerintah dan disepakati keberangkatan tim advance sebanyak 25 orang pada 23 Desember 2021 dengan catatan pelaksanaan uji coba sistem tersebut hanya dilakukan oleh tim advance yang berangkat pada tanggal tersebut.

Berdasarkan rapat tersebut, Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umroh (Dirjen PHU) telah menerbitkan surat pada 20 Desember 2021 tentang penyelenggaraan ibadah umrah tahun 1443 Hijriyah yang antara lain meminta seluruh PPIU untuk menunda keberangkatan ibadah umrah pada Desember 2021

Berdasarkan data dan fakta bahwa asosiasi PPIU yang saudara pimpin justru mengorganisir anggotanya untuk melakukan uji coba ibadah umrah sendiri. Berangkat pada 30 Desember 2021 dengan mengabaikan kebijakan dan hasil kesepakatan bersama. Sehubungan dengan hal itu Kemenag menyampaikan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, Kemenag menyayangkan keberangkatan uji coba umroh pada 30 Desember 2021 karena menjadi preseden buruk bagi asosiasi atau pelaku usaha lainnya untuk memberangkatkan ibadah umroh dengan mengabaikan imbauan presiden dan arahan menteri agama.

Kedua, Kemenag menyatakan kekecewaan atas pelanggaran terhadap kebijakan dan hasil kesepakatan antara pemerintah Indonesia dengan para asosiasi PPIU.

Ketiga, Kemenag hanya menyetujui permohonan keberangkatan ibadah umroh oleh tim advance yang telah berangkat pada 23 Desember 2021. Jika ada umrah selain tanggal tersebut itu di luar kebijakan menteri agama dan melanggar kesepakatan hasil rapat bersama.

Keempat, Kemenag menegur Amphuri dan meminta untuk menghormati regulasi dan kebijakan yang ditetapkan serta wajib menertibkan disiplin anggotanya.

Sebelumnya diberitakan, uji coba umroh 84 pimpinan pemilik travel anggota Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) berjalan lancar. Kelancaran uji coba umroh sudah terasa oleh rombongan sejak di bandara Tanah Air.

“Alhamdulilah rombongan perdana unsur pimpinan PPIU anggota Amphuri yang berangkat ke Tanah Suci tanggal 30 dan tanggal 31 jam satu tiga puluh satu dini hari tiba dengan selamat di Jeddah,” kata Ketua Amphuri Firman M Nur, saat dihubungi Republika, kemarin.

Firman menceritakan, bagaimana kelancaran proses kedatangan di airport Jeddah. Di sana kata dia semua proses yang dilalui oleh 84 rombongan Amphuri berjalan sengat lancara tidak ada hambatan

“Artinya memang pemerintahan Saudi Arabia semenjak membuka pintu umroh bagi jamaah Indonesia ke tanah Suci telah memberikan, menetapkan prosedur kedatangan yang sangat mudah,” ujarnya.

84 Anggota Amphuri Susul Tim Uji Coba Umroh

In this Feb. 24, 2020, photo, Muslim pilgrims pray near the Kaaba, the cubic building at the Grand Mosque, as worshippers circumambulate around during the minor pilgrimage, known as Umrah in the Muslim holy city of Mecca, Saudi Arabia. Saudi Arabia halted Thursday, Feb. 27 travel to the holiest sites in Islam over fears of the global outbreak of the new coronavirus just months ahead of the annual hajj pilgrimage, a move coming as the Mideast has over 220 confirmed cases of the illness. (AP Photo/Amr Nabil)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) memberangkatkan 84 anggotanya umroh. Keberangkatan ini sudah diketahui Kementerian Agama sebagai regulator.

“Insya Allah, bahkan kami komunikasi, kami bersurat kepada Dirjen PHU, kami bersurat kepada menteri, tembusan juga Komisi VIII,” kata Ketua Umum Amphuri Firman M Nur, saat dihubungi Republika menjelang keberangkatnya, Kamis (30/12) sore.

Firman memastikan keberangkatan rombongannya ini sempat diundur beberapa kali karena sesuatu dan lain hal. Ia berharap keberangkatan anggota Amphuri ini berjalan lancar sesuai yang telah direncanakan.

“Karena ini juga sudah diundur beberapa kali dari tanggal 16 Desember, tanggal 23 Desember ke tanggal 25 Desember akhirnya 30 Desember kami berangkat,” ujarnya.

Firman memastikan 84 jamaah umroh itu merupakan anggota Amphuri yang semuanya pemilik penyelenggara perjalanan ibadah umroh (PPIU). Keberangkatan mereka dibagi menjadi dua kelompok terbang (kloter)

“Hari ini (kloter pertama) ada 54 dan besok (kloter) kedua ada 30 dan hanya Amphuri saja,” katanya.

Firman menuturkan, kloter pertama ini penerbangannya langsung dari Bandara Soekarno Hatta ke Jeddah dan kloter kedua transit di Abu Dabi menggunakan maskapai Etihad masuk Madinah. Penerbangan yang berbeda ini sebagai bentuk uji coba umroh di masa pandemi.

“Kita harapkan uji coba ini setiap tahapan berjalan baik. Jadi target tentang kesehatan, keselamatan dapat kita penuhi,” katanya.

Firman menegaskan tidak ada larangan untuk menggunakan pesawat transit. Perjalanan ini merupakan bagian dari uji coba, sehingga penerbangan langsung atau transit harus dijalani semuanya oleh tim advance.

“Ketentuan transit itu diperbolehkan, karena ada 54 ribu jamaah yang telah melunasi dan siap berangkat dari tanggal 27 Februari, dari 54 ribu itu tidak semua direct flight banyak juga yang menggunakan transit flight,”

Dihubungi terpisah Direktur Bin Umroh dan Haji Khusus Kementerian Agama, Nur Arifin mengatakan, Kebijakan Kemenag tetap menunda keberangkatan umrah sampai omicron mereda. Rencana setelah 2 Januari 2022 dilakukan evaluasi.

“Berkaitan dengan ada yang mau berangkat umrah ke Saudi Arabia, hal itu di luar kebijakan Kemenag,” katanya.

Nur Arifin mengatakan, Kemenag tetap mengajak agar semua pihak mau mengindahkan kebijakan pemerintah untuk menunda keberangkatan umrah.

Saudi Kini Wajibkan Warganya Memindai Kode QR Aplikasi Tawakalna Sebelum Masuk Mal

aplikasi_211204055212-534

IHRAM.CO.ID, RIYADH — Seluruh warga di Arab Saudi yang ingin memasuki pusat perbelanjaan seperti mal dan tempat umum lainnya harus melakukan pemindaian melalui aplikasi Covid-19 nasional di smartphone mereka. Hal ini bertujuan untuk membuktikan mereka sudah divaksinasi.

Juru Bicara Kementerian Perdagangan Arab Saudi, Abdulrahman Al-Hussein menyampaikan, konsumen harus memindai atau scan barcode melalui aplikasi Tawakkalna sebelum memasuki pusat perbelanjaan dan tempat umum lainnya.

“Aplikasi tersebut akan secara otomatis memeriksa status vaksinasi mereka,” kata Hussein dalam konferensi pers mengenai perkembangan pandemi Covid-19 di Riyadh, sebagaimana dilansir dari Arab News, Selasa (28/12).

Selain itu, kalangan perusahaan swasta yang mengelola pusat-pusat perbelanjaan juga harus menempatkan kode QR untuk melakukan izin verifikasi kesehatan otomatis di pintu masuk. Jajaran staf juga bertanggung jawab untuk memastikan bahwa konsumen memindai kode QR tersebut sebelum masuk.

Hussein mengungkapkan, itu wajib dilakukan dan tidak hanya berlaku bagi pusat perbelanjaan besar tetapi juga kepada seluruh toko kecil di sektor ritel. Karena itu, toko kelontong, binatu, pangkas rambut, dan penjahit, juga wajib memverifikasi vaksinasi konsumen melalui aplikasi secara manual.

“Hanya individu yang telah sepenuhnya divaksinasi, selain dari mereka yang memiliki pengecualian, yang diizinkan ke tempat komersial,” tutur Hussein.

Hussein mengatakan, layanan verifikasi kesehatan otomatis baru di aplikasi Tawakkalna akan berkontribusi untuk meningkatkan tingkat komitmen dan kepatuhan terhadap tindakan pencegahan penyebaran virus corona di mal, pusat perbelanjaan, dan kawasan.

Arab Saudi pada Senin (27/12) kemarin mengumumkan jumlah orang yang terinfeksi varian Omicron Covid-19 mengalami peningkatan. Terbaru, per Senin (27/12), Kerajaan mencatat ada 524 infeksi kasus baru Covid-19.

Dalam kondisi demikian, Saudi membuat kebijakan bahwa hanya orang-orang yang telah menerima dua dosis vaksin, ditambah suntikan booster, yang akan diizinkan memasuki fasilitas, pusat komersial, mal, restoran dan kafe. Keputusan tersebut akan berlaku efektif mulai Februari 2022.

APHINDO: Umroh Tim Advance Mengalami Kendala

jamaah-umroh-melakukan-tawaf-selama-musim-pandemi_210205180402-874

IHRAM.CO.ID,JAKARTA–Pendiri Aliansi Pengusaha Haramain Indonesia (Aphindo) Muhammad Dawood menyesalkan program umroh tim advance yang berangkat 23 Desember kemarin tidak berjalan sesuai rencana. Dawood menceritakan awalnya direncanakan semua jamaah tidak karantina bagi yang telah vaksin lengkap pfizer, moderna dan astrazeneca, tetapi kesapakatan itu berubah saat ketibaan di arab Saudi.

“Bahkan seluruh peserta yang sudah mendekati Madinah dipanggil ke Jeddah untuk menjalani karantina sesuai aturan otoritas bandara arab saudi ( GACA ),” kata Muhammad Dawood saat menyampaikan kondisi terkini umroh tim advance kepada Republika, Sabtu (25/12) malam.

 

Menurut Dawood, perjalanan ini sudah tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan dari awal, sehingga membuat tim kecewa. Meski demikian kata dia, tim tepat sabar menjalaninya.

“Artinya program umroh tim advance kacau balau kita nampaklah dari wajah teman-teman walaupun mereka tetap tersenyum,” ujarnya.

Dawood yang juga pemilik travel Riau Wisata Hati (RWH) ini berharap keadaan ini tidak terjadi ketika jamaah umroh diberangkatkan. Untuk itu pemerintah dan asosiasi harus memastikan aturan aturan yang berlakun oleh otoritas bandara, kementerian haji arab saudi dan pihak lain pemegang aturan, sehingga kejadian serupa tidak sampai terulang pada jamaah umrah Indonesia.

“Saya menjadi semakin pesimis dengan umroh di musim ini, dengan berbagai pertimbangan. Mulai dari tingginya biaya karantina dan waktu pelaksanaan karantina yang berlaku sekarang seiring berkembangnya berita berita virus corona omicron yang merebak di kalangan jemaah malaysia,”ujarnya.

Dawood meminta Kemenag bisa memberikan informasi yang akurat kepada Asosiasi dan PPIU perihal aturan aturan di Saudi agar ke depannya seluruh Jemaah siap dengan segala aturan yang berlaku dan PPIU tidak disalahkan jika adanya simpang siur informasi di Arab Saudi yang tidak disampaikan kepada para PPIU.

Perjalanan Ke Tanah Suci Awalnya berjalan Normal dengan pelaksanaan karantina di Asrama Haji sampai mendarat di Airport Jeddah. Ada enam orang peserta yang diwajibkan karantina karena menggunakan Vaksin Sinovac tanpa Booster, dan 19 Peserta bisa keluar airport tanpa kendala menuju Madinah dan Makkah.

“Tetapi setelah 150 KM mendekati Madinah beberapa peserta dipanggil kembali untuk menjalani karantina di Jeddah dan jika hal serupa terjadi kepada jemaah yang rata-rata sudah tua, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi? PPIU yang akan disalahkan” ujar Dawood

Sementara asosiasi lain bersama muassasah Al Maidaa program mereka dari Jeddah langsung ke Makkah, sehingga mereka perlu miqat di Jeddah. Akhirnya butuh waktu untuk persiapan miqat, sehingga mereka terlambat jalannya ke Makah, karena persiapan miqat.

Jadi penerbangan melihat mereka lama dan menahan mereka untuk tidak ke Makkah dan disuruh karantian di Jeddah,” katanya. Artinya perjalanan ini tidak terkoordinasi dengan baik antara penerbangan (GACA) dengan Kementrian haji.

“Kalau clear tentu tidak akan terjadi kejadian seperti hari ini.” Ujar Dawood

Kami mendoakan seluruh teman-teman kami semoga perjalanan kali ini lancar, mendapatkan umrah yang maqbul dan ucapan terimakasih kami kepada seluruh peserta team advance semoga selalu dalam perlindungan Allah SWT,berjuang untuk Umat.

Untuk itu Dawood meminta persoalan semacam ini segera diselesaikan oleh pemerintah Arab Saudi dan pemerintah Indonesia. Sehingga ke depannya perjalanan ibadah umroh jamaah berjalan lancar.

“Kita minta Kemenag ke depannya lebih jeli dalam koordinasi dan komunikasi perihal aturan yang berlaku di Arab Saudi agar jika nantinya umrah dibuka untuk jemaah, hal serupa tidak terjadi kepada jamaah,” katanya.

Sementara, saat dihubungi Sabtu (25/12) malam, Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Nur Arifin mengakui belum mendapat informasi tentang adanya masalah yang terjadi kekacaun pada tim advance. Kekacauan ini bermula dari diminta kembalinya tim advance ke Jeddah untuk karantina, padaha mereka dalam perjalanan menuju Madinah.

“Saya tidak mendengar informasi kalau kacau balau,” kata Nur Arifin saat dihubungi Republika.

Tim Advance Umroh Masa Pandemi Diterbangkan Malam Ini

ketua-umum-amphuri-firman-m_210607141657-790

IHRAM.CO.ID, JAKARTA–Tim advance mitigasi sistem umrah di masa pandemi Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) terbang malam ini. Tim ini diberangkat untuk mempelajari langsung pelaksanaan umrah dengan segala aturan dan protokol kesehatan yang diberlakukan Pemerintah Arab Saudi maupun Indonesia.

“Tim advance ini akan barangkat menuju Arab Saudi malam,” kata Ketua Umum Amphuri Firman M Nur, saat dihubungi Republika, Kamis (23/12).

Firman mengatakan, keberangkatan tim yang terdiri dari lintas asosiasi penyelenggara umrah ini guna mempelajari langsung setiap tahapan pelaksanaan umroh dengan segala aturan dan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Berdasarkan kesepakatan Kementerian Agama bersama asosiasi penyelenggara umroh, maka Kamis, 23 Desember malam nanti, tim advance akan terbang ke Saudi.

“Sebanyak 25 orang perwakilan asosiasi yang tergabung dalam tim, lima orang di antaranya dari Amphuri,” ujarnya.

Kelima orang tersebut, lanjut Firman terdiri dari Wakil Ketua Umum Azhar Ghazali, Wakil Sekretaris Jenderal Rizky Sembada, Ketua Bidang Haji Ismail Adhan, Wakil Ketua Bidang Hubungan antar Lembaga Syaiful Bahri dan Ketua Koperasi Amphuri Bangkit Melayani Amaluddin Wahab.

Menurut Firman, keberangkatan mereka untuk mengemban misi khusus yang akan menguji coba umrah dengan berbagai regulasi yang diberlakukan oleh Arab Saudi maupun Indonesia. Termasuk konektivitas sistem dan teknis aplikasi pelaksanaan umroh kedua negara.

Firman mengatakan, jika keberangkatan tim ini dinyatakan berhasil, maka akan dilanjutkan keberangkatan para pimpinan PPIU yang sebelumnya sudah dijadwalkan.  Keberangkatan ini ditunda oleh Pemerintah Indonesia.

“Baru setelah itu kami akan bisa memberangkatkan jamaah umroh di awal tahun nanti,” ujar Firman.

Dalam kesempatan yang sama Wakil Ketua Umum Amphuri Azhar Ghazali yang ditunjuk sebagai ketua tim Amphuri yang ditemui di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, memastikan tim advance mitigasi sistem umroh ini terdiri dari owner PPIU sekaligus pengurus asosiasi.

Azhar menyebutkan bahwa proses dan tahapan yang dilalui oleh seluruh tim advance dimulai sejak karantina dan screening kesehatan di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Kemudian, setiba di Saudi nanti akan menjalani karantina selama tiga hari dan tes PCR di Jeddah.

“Setelah itu, kami akan berangkat ke Madinah dan selanjutnya ke Makkah. Tim direncanakan kembali ke Tanah Air pada tanggal 1 Januari 2022,” jelasnya.

“Jadi sekali lagi kami berangkat ke Saudi atasnama pimpinan asosiasi penyelenggara umrah, bukan jamaah,” katanya.

Azhar menegaskan, tim ini mengemban misi sebagai duta bangsa yang akan menguji coba sistem link teknis aplikasi pelaksanaan umroh kedua negara yaitu Siskopatuh dan Peduli Lindungi untuk Indonesia serta Tawakalna untuk Saudi Arabia. Dengan keberangkatan tim ini, pihaknya akan mendapatkan gambaran secara langsung bagaimana masing-masing sistem tersebut terkoneksi.

“Tak terkecuali penerapan protokol Covid-19 oleh Saudi untuk jamaah umroh,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan uji coba umrah ini, akan menentukan pelaksanaan umroh bagi jamaah nantinya termasuk pelaksanaan haji. Ia berharap, dalam keberangkatan misi uji coba ini tidak terjadi kasus Covid di saat keberangkatan hingga kepulangan nanti, sehingga, tim ini akan mampu memberikan hasil yang maksimal dan kembali dengan membawa bahan evaluasi untuk persiapan pemberangkatan jamaah umrah Indonesia.

“Kami komitmen untuk disiplin dalam melaksanakan protokol Covid 19 sejak berangkat sampai dengan kepulangan,” ujar Azhar.